mataku senang melihat hal baru, tapi hatiku hanya terpaku padamu...

mataku senang melihat hal baru, tapi hatiku hanya terpaku padamu...

Laman

Sekilas tentangku

My photo
Coral conservation... Please visit our web at biosopherefoundation.org and instagram @miratsea untuk mengtahui kegiatan terbaru dalam pelayaran dan kegiatan konservasi. Untuk selengkapnya bisa hubungi kami di +62 818 0431 4933 (Luisa)

Wednesday, December 21, 2016

Day 14 : Sebuah Pondasi

https://pixabay.com/en/sailboat-boat-sea-sail-ship-37725/

Bicara mengenai sebuah landasan, dimana titik terbawah haruslah selalu kuat dan tidak membuat yang lain timpang. Berdiri kokoh bukanlah hal yang mudah, karena untuk berdiri saja butuh banyak tenaga. Banyak orang. Saya bukan orang yang mudah di atur dari bawah, saya selalu memilih menunggu sampai landasan tadi kuat dan saya siap berdiri diatasnya. Tapi itu kan 'kalau saya', ternyata keinginan itu tidak bisa diterapkan disini. Saya sudah hampir dua minggu mengikuti suami untuk menjadi seorang crew kapal. Kapal pesiar yang tugas dan tujuannya jauh dari kata 'senang-senang belaka'. Sebuah kapal pesiar, kapal tinggal yang saya pikir akan mengubah hidup saya menjadi seorang penulis handal di tepi kapal sambil menikmati tenggelamnya matahari dan terik serta syahdunya angin laut. TETTTT itu semua hanya mimpi! Kapal itu sedang dry dock,  diangkat ke permukaan dan semua tetek bengeknya dikerjakan bersama. Iya bersama, 8 orang dengan komposisi 3 pria dan 5 wanita. Semuanya kompeten dalam masalah bor mengebor, gerinda meng-gerinda, pasang alat ini itu. Sementara saya? Bisa tahan bekerja dari jam 8 pagi sampai 7 malam saja sudah anugerah. Jangan tanya saya ngapain aja selama dua minggu itu. Pekerjaan saya gampang, tapi banyak, jelimet, lompat sana sini, pokoknya multi-talent lah. 

Eh iya, sebelumnya mau saya kasih tau nih, orang Indonesia di kapal hanya saya dan suami saya. Yak, Pak Jokowi harus tau itu karena salah satu tujuan kami jadi crew adalah demi membanggakan nama Indonesia di kancah perlautan dan konservasi dunia. Kapten dan crew lain adalah orang Amerika dan ada yang orang Inggris. Jelimet, saya bukan jagoannya bicara bahasa inggris, apalagi harus bekerja dengan instruksi berbahasa inggris. Rasanya mau mati. Sumpah beneran. 3 hari ikutan dry dock rasanya mau bunuh diri lompat dari kapal yang bawahnya tepat para pekerja sedang las beberapa besi besar. Tapi takut sakit. Hidup ini sudah terlalu sakit. Sini deh saya ceritain bagaimana hidup saya di Singapura sebagai seorang crew, bukan turis dari Indonesia yang heboh banget mau main ke Universal Studio (saya sebenernya juga mau sih).

Saya tiba di Changi pada hari Rabu, 7 Desember dan suami saya yang ganteng itu bukannya nunggu di tempat orang datang malah entah dimana sampai akhirnya kita cari-carian sampai 2 jam sendiri. Udahdeh yang itu gak usah dijelasin. Urusan rumah tangga memang pelik. 

07.00 Sarapan di area apartment dan kami selalu makan roti prata dan kari
07.20 Perjalanan menuju ASL Shipyard
08.00 Tiba di area dry dock lalu ganti kostum all cover ala-ala naruto (nggak juga sih) lalu mulai kerja
10.00 Istirahat bagian 1, kami menyebutnya snack time. Durasi paling lama break adalah 20 menit
11.40 (Ini khusus saya) Mempersiapkan makan siang untuk semua orang. Sandwich isi daging ham yang gak digoreng (tapi mereka suka) dan saya hanya makan roti dengan keju dan mayonise
12.00 Makan siang bersama dan istirahat sejenak (saya sejenak, mereka lama)
12.30 Cuci piring dan perabotan yang dipakai untuk persiapan makan siang (cuci piring dilakukan didalam kantor ASL yang letaknya sekitar 300 meter dari kapal kami.
13.00 Mulai kerja kembali
15.00 Istirahat bagian 3, waktunya minum 100plus (macam isotonik supaya badan kita tetep seger dan tahan banting)
17.00 Masih tetap dengan pekerjaan tapi biasanya jam genting seperti ini saya mulai ambil vacum dan bersiin debu dari kepala sampai buntut kapal.
18.00 Pulang lah kita
19.00 Makan malam di Chinesse food warteg gitu, sekali makan bisa sampai 5$

Ya bisa dibilang saya jadi tukang bebersih kalau di kapal selama dry dock ini. Cuci piring dan gelas, sapu lantai, lap debu di berbagai perkakas dan jadi tim hore kalau yang lain mulai lelah. Tapi selain bebersih, saya pernah mendapatkan beberapa pekerjaan yang menantang seperti : membersihkan ruangan mesin, membersihkan tempat penyimpanan perkakas, merekatkan bagian lubang dengan sela lubang dengan lem poksi yang super duper membuat kulit jari saya terkelupas semua, menutup semua bagian pinggir kapal dengan koran karena akan ada pengecatan masal di kapal, dan lain sebagainya sampai saya lupa. Saya rasanya mau pulang saja ke Indonesia. Tapi tujuan saya disini adalah untuk mendampingi suami saya, jadi bertahan sedikit lagi pasti semua akan berbuah manis. Intinya saya harus berkomitmen untuk terus disini, belajar banyak hal termaksud bahasan dan ilmu yang harus diterapkan setelah kami mendarat nanti. Karena individu yang berkomitmen tinggi dapat mengubah dunia. Hasekkkk (LP)