mataku senang melihat hal baru, tapi hatiku hanya terpaku padamu...

mataku senang melihat hal baru, tapi hatiku hanya terpaku padamu...

Laman

Sekilas tentangku

My photo
Coral conservation... Please visit our web at biosopherefoundation.org and instagram @miratsea untuk mengtahui kegiatan terbaru dalam pelayaran dan kegiatan konservasi. Untuk selengkapnya bisa hubungi kami di +62 818 0431 4933 (Luisa)

Sunday, December 4, 2016

Menerima, Menelan dan Menyimpan Rapat

Ketika barang diterima dan ditujukan memang untuk kita, maka yang perlu dilakukan adalah memeriksa apakah barang tersebut rusak atau tidak. Tapi bila terlanjur lama kita menyadari bahwa barang tersebut rusak, lalu mau menyalahkan siapa? Sama halnya dengan tentang kejadian yang sudah berlalu, kadang masih menimbulkan beberapa pertanyaan yang hinggal di kepala dan entah bagaimana mengungkapkannya. Mencari-cari alasan untuk apa yang telah terjadi? Cukup adilkah? Atau belum bisa move on dan terus mengira-ngira bila yang terjadi bukan itu tapi ini? Bolehkan? Jangan dendam tentang apa yang telah terjadi, apalagi sampai dendam kepada Tuha, waktu, orang lain bahkan diri sendiri. 

Saya banyak keliru dalam bertindak diumur yang sudah sangat matang padahal. Tapi saya coba berdamai dengan diri saya sendiri, jangan sampai saya dendam kepada otak dan nurani saya yang jelas-jelas selalu keliru. Beberapa kasus membuat saya tidak menyesali dan berupaya menjadikannya pelajaran kelak untuk diri saya dan juga orang sekitar saya.

Lanjut S1 dengan keyakinan akan dapat pekerjaan yang lebih baik bila saya bergelar Sarjana.
Faktanya : saya benci teori-teori yang diajarkan di jenjang S1, saya lebih nyaman dengan praktikum ala anak-anak Diploma 3. Akhirnya saya berhenti kulian disaat satu semester lagi menjelang wisuda.
Alasan yang mulai dicari : Oh, lebih baik saya kerja dengan ijazah D3, toh bekerja sebagai akunting juga tidak memerlukan gelar tinggi, SMA pun bisa.
Tapi disini yang saya korbankan adalah keuangan keluarga saya. Sudah dibela-belain dibayarin sekolah, saya malah mengundurkan diri. Kan, jadi salah siapa kalau seperti ini?

we heart it : smile_52
Resign kerja dalam waktu singkat (8 bulan) dengan keyakinan akan fokus menulis dan berkarya melalui video.
Faktanya : sedikitpun tidak ada yang terlaksana, saya lebih memilih banyak piknik, keluar kota dengan sisa gaji saya dan belanja beraneka ragam hal kesukaan saya sampai pada akhirnya uang saku saya habis dan kembali menjadi pengngguran.
Alasan yang mulai dicari : Oh, pekerjaan lama saya memang menyita waktu saya bersama keluarga dan pacar saya. Bayangkan saja, setiap hari Senin - Sabtu saya harus masuk kerja dari jam 9 - 17.00 kemudian pada jam 20.30 saya harus kembali ke kantor untuk menghitung omset dan meyimpan uang. Saya harus menuju 2 otlet yang berjauhan pada malam hari. Kerja rodi? Bukan, ini Romusha.
Bukan, ini bukan gara-gara Tuhan, murni ini emang salah otak saya. Otak saya kurang asupan ilmu memprediksi. Mungkin kalau saya melanjutkan kuliah S1 saya, insting memprediksi saya akan lebih tajam.

we heart it : shathaES
Menikah muda dan meinggalkan keluarga, menjadi keputusan blak-blakan saya selanjutnya.
Fakta : berbeda dari pemikiran saya yang "pasti jadi pasangan muda yang susah dan banting tulang banget karena penghasilan gak seberapa", tapi ternyata suami saya membuka peluang untuk saya terus berkarya. Walaupun saya berbeda bidang dengan suami saya, saya bisa melakukan hal yang saya suka setelah menikah dan lagi bisa berkeliling Indonesia bersama suami saya. Ini anugerah, tumben saya hoki.
Alasan yang mulai dicari : dulu saya belum bisa memberikan apa-apa kepada keluarga saya bahkan samapi saya berhenti bekerja. Mungkin dengan saya menikah diusia 23 tahun ini, perjalanan saya masih sangat panjang dan masih bisa berkarya lebih banyak walaupun harus jauh dari keluarga. Saya bersyukur akhirnya kali ini keputusan saya berbuah hasil yang tepat dan mujarab. 

Terlanjur menerima? Yasudah telan saja. Kalau rasanya tidak seenak bentuknya? Yuadah simpan saja, rapat-rapat dan diam-diam supaya tidak ada yang merasa bersalah ataupun disalahkan. Jangan dendam juga, toh udah ditelan sendiri kan? (LP)