| Ini nih kemudi kapalnya |
MIR (nama kapal kami, Make It Real kepanjangannya) adalah kapal wanita, sebelumnya kapal ini dipergunakan untuk pelatihan pelayaran oleh pasukan wanita di tahun sekitar 1910an. Ini kapal dari Belanda, iya yang dulu jajah kita, sekarang gantian saya dan suami saya yang akan jajah kapal ini. Hahaha... Dalam ekspidisi ini dominan crew adalah wanita. 3 pria dan 4 wanita super yang tiap pagi siang dan malam selalu membersihkan dapur sampai kinclong. Keberangkatan kami diundur setengah jam, tepat jam 10 pagi MIR melakukan manufer, putar haluan 90 derajat namun gagal karena angin tidak mendukung (padahal ya pake mesin, saya kurang paham nih masalah ini), kapten dikemudinya lalu suami saya (nanti-nanti saya sebutkan namanya deh) dan Dolphin bagian menangkap tali yang tadinya di sandarkan ke dermaga, tim cewek-cewek bagian pegang pelampung supaya body MIR tidak terbentur dermaga. Pilihan terbaik jatuh pada memundurkan MIR lalu belok kiri dan pergi lah kita dengan menyalakan mesin. Masih kondisi hujan, dan jam 10 adalah waktuku untuk 'watching' , yaitu memantau sekitar untuk memastikan tidak ada kapal atau apapun yang dapat mengganggu MIR. Tapi, pekerjaan tambahanpun datang, saya tidak hanya berdiri disamping pilot sambil memegang teropong, saya juga disuruh mengemudi kapal. Kapten Laser dengan yakin menyuruh saya duduk di tempat duduknya, senyum manis digambarkan dibibirnya, namun lihatttt kalau saya sampai salah di derajat tujuan saya, dia pasti akan memakiku "oh fuck luisaaaa", sudah biasa.
Jadi pelajaran yang harus dipahami dalam mengemudi adalah:
| Carol, Gaei dan Dolphin mengemudi sambil bergembira huahaha... |
A. Kita harus duduk di bangku kemudi (yang ini saya gak lulus tes, karena kalau saya duduk, saya gak bisa lihat bagian mancung di depan kapal yang suka kekiri dan kekanan karena kena arus). Berdiri di bangku juga oke kalau tahan sejam dua jam sih. Intinya si pengemudi harus melihat si 'bouwspert' (sampai sekarang cuma tau sebutannya tapi gak tau gimana nulisnya) berubah haluan kanan kiri.
B. Putar kemudi saat si 'bouw' kekiri atau kekanan, karena pada umumnya pertemuan pertama dengan lautan lepas pasti tidak bisa bedakan ini kapal lurus apa belok sihh. Maka dari itu, makin sering lihat 'bouw' maka akan makin paham MIR belok kemana. MIR harus lurus, jangan terlalu kekanan atau kekiri.
C. Perhatikan kompas waktu mengemudi, karena sebelum mengemudi atau sebutan kerennya 'helming', kapten atau first maid akan ngasih tau si giliran selanjutnya di derajat mana kita akan mengarah. Rata-rata diatas 120 derajat sih, yaudah tinggal ikutin kompasnya saja sesuai arahan si pengemudi dan kemana MIR mau melaju.
D. Kalau layar sudah terpasang, hal penting selanjutnya adalah harus tau dari mana angin berasal, karena kalau ternyata asalnya dari kanan kita, tapi kemudinya terlalu kekiri, terjadilah 'jaip' alias angin ribut di layar dan seluruh crew harus mengganti arah 'boom' menuju arah angin.
E. Kalau semua sudah dilakukan, tinggal sabar aja semisal kapten datang dan marah karena derajat di kompas melenceng. Apalagi kalau sampai melencengnya gara-gara kebanyakan ngobrol dan bercandaan, jadi kalau sedang helming, saya dan Mas Abri gak bisa ngobrol sama sekali, kita gak punya waktu banyak untuk ngobrol dalam satu hari pertama ini. Sedih...
Butuh adaptasi selama kapal terus bergerak, apalagi mulai rada mabok laut kalau mau ke kamar mandi atau tempat tidur. Belom lagi harus beres-beres dapur setelah makan siang dan makan malam. Dan itu saya semua yang melakukan. Walau kadang di bantu Nadia dan Caroline sih, tetap saja, kapal goyang lebih parah dibanding mobil goyang, es goyang enak tapi. Hemm... Emang paling enak kalau sedang berlayar dan menghilangkan rasa mabok laut adalah dengan berdiri di deck kapal atau helming sekalian bila perlu. Biarlah masuk angin yang penting nggak mabok laut. Begitu kira-kira. (LP)