mataku senang melihat hal baru, tapi hatiku hanya terpaku padamu...

mataku senang melihat hal baru, tapi hatiku hanya terpaku padamu...

Laman

Sekilas tentangku

My photo
Coral conservation... Please visit our web at biosopherefoundation.org and instagram @miratsea untuk mengtahui kegiatan terbaru dalam pelayaran dan kegiatan konservasi. Untuk selengkapnya bisa hubungi kami di +62 818 0431 4933 (Luisa)

Tuesday, February 7, 2017

(2) 9 Hari Berlayar : Mabok Laut Gak Seindah Mabok Cinta!

Emang terkadang sombong itu bikin lupa diri. Hari pertama dilalui dengan mulus tanpa hambatan, walaupun tiap jam ada aja kejadian yang bikin bete karena si Kapten suka marah-marah kalau kita semua pada rada oon dan kerja bingung. Ya gimana gak bingung, sebelum berlayar kita belum diajarkan tentang menggunakan layar. Oke mungkin untuk materi emang dikasih, tapi praktek langsung ya belom pernah. Selalu diyakinkan 'learning by doing' oleh Kapten, lama-lama pasti bisa, dia berharap demikian. Tapi satu kalli dalam sehari dan dalam tekanan tinggi oleh Kapten, kadang otak susah untuk diajak kerja. Ketika 'forsail' mau dinaikan contohnya, ternyata gak segampang naikin bendera merah putih tiap hari senin. Itu layar berat banget loh waktu mau dinaikan, belum lagi harus mengatur agar 'boom' menuju arah yang tepat supaya layar bisa mengembang sesuai datangnya angin, dan itu juga susah, gak cuma asal geser, butuh tenaga ekstra agar si 'boom' mau nurut pindah ke lain posisi. MIR sedikit susah dikendalikan karena memang ini kapal yang konon dirancang untuk menyulitkan orang lain yang mengambil atau mencuri atau merampok si MIR ini. Dua kali kita putar setir belum tentu dia mau berbelok, tunggu jeda waktu yang lama. Itu yang kadang membuat derajat saat menyetir jadi melenceng jauh dan akhirnya kena tegor oleh Kapten. Malam tadi kata Caroline cukup menegangkan karena angin kencang sempat melempar Gaei (isteri Kapten) yang sedang berupaya membuat agar si layar tidak 'jaip'. Padahal Gaei cuma pegang tali yang ada di layar, tapi itu udah cukup bisa membawa Gaei berputar di sekitar kapal dan buummmm, kepalanya menghantam winch yang cukup besar dan itu besi saya rasa. Angin kencang dan gelombang cukup tinggi dengan keadaan Gaei yang kepalanya bocor membuat Caroline yang sama-sama crew baru jadi panik dan tidak bisa mengendalikan setir kapal sampai akhirnya melenceng dari seharusnya derajat 145 menjadi 100. MIR hilang arah.

kompakan mabok. (photo by : caroline)
Harusnya pagi itu saya tertawa dengar cerita Caroline yang panik dan mencoba menirukan segala kondisi seperti semalam. Tapi nyatanya saya kena mabok laut. Benar-benar mabok yang parah. Saya butuh Mas Abri, saya butuh teh hangat darinya. Namun yang terjadi, saat dia masih tugas watching, dia juga kena mabok laut. Aduhhh, pengalaman pertama berlayar dengan kondisi mabok laut dan suami tidak bisa mengurus saya karena dia juga mabok laut. Lengkap sudah penderitaan, padahal yang saya tau dia adalah pelaut handal, dia manusia laut. Mungkin Mas Abri terlalu sombong, jadi diberi mabok laut oleh Tuhan. Saya lebih bahagia duduk di luar daripada harus masuk kedalam apalagi tidur di banker saya. Mau mati rasanya. Muntah yang cuma air akhirnya berlanjut sapai warna kuning dan hijau. Dan gak ada yang bantu saya saat itu. Semua orang yang sedang tidak tugas watching memang diharuskan istirahat, nah saat itu suami saya ada di dekat saya. Tapi dia tidur. Saya seperti meregang nyawa karena muntah yang menyesakan dada. Harusnya saya ngeri ada ikan hiu menyambar saya waktu saya muntah, tapi apadaya pikiran belum sampai sana. Udah muntah lama, si suami cuma tidur aja gak ada reaksi. Oh Tuhan, benci banget rasanya, mau nyebur tapi gak bisa renang, mau lempar suami pake ember yang ada di deck kapal nanti dia marah. 
pojok favorit untuk muntah dan pipis untuk para lelaki
Hubungan suami isteri jadi suka gak baik selama di kapal. Kadang si Kapten dan isterinya juga gitu. Saking sama-sama pintar dan sama-sama jago melaut, mereka suka beda pendapat dan cekcok kemudian pisah ranjang. Sayapun begitu, butuh pisah ranjang sepertinya kalau ada hal gak bikin enak dihati. Tapi apadaya saya suka gak bisa tidur kalau jauh dari suami. Belum lagi ombak malam ini besarrrrrrr sekali, kasur rasanya seperti lagi ditimang, belum lagi suara air yang berbenturan dengan MIR. Berisik. Saya gak bisa tidur sama sekali malam itu. Hujan dan suara angin menambah penderitaan saya yang lagi mabok-maboknya, mulai selesai watching di jam 9 malam akhirnya saya berhasil tidur di jam 3 pagi. Dengan kepala pusing karena MIR rasanya lagi dimainin raksasa, dijungkir balikin atau lagi dijadiin pesawat-pesawatan gak ngerti lagi deh. Untungnya saya maish hidup. Saya masih mau makan kari spesial buatan Gaei yang super duper bikin nagih. Saya masih mampu cuci piring di dapur dengan keadaan sempoyongan karena pusing dan buru-buru keluar kalau siap untuk kembali muntah. Puji syukur kepada Tuhan, saya dan suami masih sehat masih hidup dan masih saling mencintai. Itu yang penting. (LP)