mataku senang melihat hal baru, tapi hatiku hanya terpaku padamu...

mataku senang melihat hal baru, tapi hatiku hanya terpaku padamu...

Laman

Sekilas tentangku

My photo
Coral conservation... Please visit our web at biosopherefoundation.org and instagram @miratsea untuk mengtahui kegiatan terbaru dalam pelayaran dan kegiatan konservasi. Untuk selengkapnya bisa hubungi kami di +62 818 0431 4933 (Luisa)

Friday, February 3, 2017

Biarin Gelap, Yang Penting Suami Sayang

Gapapa item, yang penting sombong

Bermula dari janji manis si suami yang bilang kalau sampai di Singapore bakal jadi penulis handal dengan berbagai materi cerita yang mengasikan, bisa nulis di apartemen Nadia dengan koneksi internet ngebut tanpa macet, tapi semua itu hanya angan belaka. Nyatanya saya harus ikut Dry Dock di ASL Shipyard, Singapore. Kapal yang dari luar terlihat bagus, namun didalamnya terdapat banyak karat dan lubang yang harus dinormalkan kembali supaya nggak tenggelam waktu berlayar. Masalah ngelas lubang atau ngilangin karat sih emang bukan kerjaan saya, tapi berkutat dengan debu saat bersih-bersih setiap ruangan yang ada udah bikin kulit berubah tekstur. Dari jerawat punggung, daki tak terlihat sampai tai lalat yang nambah. Tapi itu masih belum merubah wajah, wajah masih terlihat sama manisnya saat pertama kali datang. Hahhhh... Dry dock juga bikin kulit sedikit terbakar tapi kadarnya gak seberapa karena lebih parah debunya daripada sengatan mataharinya disana.  Saya gak pernah pake sunblock karena tiap hari pakai cover all ala-ala tukang di luar negeri dan pakai helm jadi muka gak gosong-gosong banget. 

Kirain dry dock adalah momen terparah sepanjang bergabung dengan MIR, si kapal berwarna biru dengan tiang gagah dan 4 layar (baru), saat pindah lokasi ke Raffles Marina malah itulah dry dock sungguhan. Kenapa? Akhirnya bisa kerja ekstra keras dibawah sinar matahari yang teriknya minta ampun! Tiap hari pake sunblock spf 50 sampai 70, tangan kaki dan muka sampai dibuat kayak mumi, putih semua, dan juga masih pakai topi. Tapi gak ngaruh. Setelah pakai sunblock, saya harus ngamplas semua bagian kapal yang terbuat dari kayu selama 3 hari berturut-turut. Sunblock ditambah debu dari kayu mungkin bisa jadi double protection, tapi itu cuma bisa ngotorin sabun batang yang baru aja dibeli dari Daiso, sabun wangi berwarna pink itu sekarang sudah bulukan, sama seperti saya. Setiap ngaca rasanya hina. "Jelek banget lu, Sa!" Tapi suami saya selalu bilang "Nggak jelek yang. Sayang manis." Ya namanya cewek sih kalau gak cantik ya gak cantik (manis). Tapi saya tetep santai karena 7 orang di kapal hanya saya dan suami saya yang indonesia dengan kulit eksotis, sisanya dari Amerika dan Prancis, walaupun salah satu dari mereka ada yang dari Singapore dengan kulit eksotis juga namun kita saling mengagumi kulit satu sama lain, jadi hitam pun gak masalah disini. Mereka gak ada yang ngina juga.

Penampakan terakhir sebelum ke Indonesia (photo by : Caroline)

Clear, masalah hitam atau gosong sekalian udah gak ngefek sama saya alias bodo amat. Walaupun warna kulit udah hampir sama kayak suami, tapi bodo amat. Sampai akhirnya harus berlayar 9 hari dari Batam ke Bali, walaupun 9 hari itu 6 harinya lainnya adalah hujan, tetap aja kalau matahari nongol bisa bikin kulit si orang Indonesia ini merah dan perih. Padahal awalnya getol pake sunblock, walaupun tetep pake baju lengan pendek dan celana pendek, namun matahari terlalu kuat untuk sunblock, sunblock musnah dan rasa malas menggunakannya pun datang. Bye bye sunblock, sekarang saya berani menghadapi matahari tanpamu. Bisa aja sih selama pelayaran gak keluar dari ruangan di bawah, tapi jadwal helming (nyetir kapal) harus terus berjalan. Ya, saya hitam karena si MIR saya setirin. Jadi hitam gak bisa di tolak. Hanya saja memang terlalu malas untuk pakai baju lengan panjang. Para bule suka kulit eksotis, jadi mereka gak mungkin hina saya, tapi warga Indonesia sendiri yang berkulit eksotis mulai hina sana ini itu setibanya saya di Bali. "Eh ada orang Papua!", "Mana Luisa kok gak keliatan?" , "Ih sekarang jelek bnaget". Woy, saya jadi hitam karena pengalaman baru dan itu gak semua orang bisa raih, susah untuk sampai di titik ini. Kalian yang ngina saya, hitam kalian mungkin karena kebiasaan sehari-hari yang gitu-gitu aja, jadi gak usah cerewet. Kalau saya tetap putih, mungkin sekarang saya masih ada di Yogyakarta dengan kegiatan gak nentu tanpa suami saya, dan 4 bulan pernikahan baru sebulan saya bertemu suami saya. Itu terlalu miris bagi saya. Jadi selama saya adalah isteri dari suami saya, dan dia masih butuh saya mendampinginya sampai perjuangan berikutnya, hitampun saya gak masalah. Soalnya suami saya udah janji mau ngajak ke dokter kecantikan kalau kita dapat jatah libur pulang ke rumah nantinya. Ya sukur kalau bisa sekalian suntik vitamin C. Haha... (LP)